Kamis, 13 Agustus 2009

Cinta Laki-laki Biasa (part 1)

3 comments
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia
mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi
bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan
Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama
herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari
sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.

Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan
lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali
beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua
menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik
nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil
dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian
di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.

Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan
Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat
karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab
kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa
dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania
bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang
balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang
melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira
Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda
baik.. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa
saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana,
sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca
puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.

Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan
laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat
tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan
biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat
biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.

Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya.

Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak
'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah
menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga.. Dan nalurinya
menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik
di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar
tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau
cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu
sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!

Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!
Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli.. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan
tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.

Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan
satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah
mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih
dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania
memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud

Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya
maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus
pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti
kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika
bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar
dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu
berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan
kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania
belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.

Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Cinta Laki-laki Biasa (part 2)

0 comments
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu
dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke
dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal,
hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.

Belum ada perubahan, Bu.

Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan.

Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang
tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.

Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?

Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,
dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.

Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di
rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.

Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania
dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh,
dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran
kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.

Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili
mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir
untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit,
mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang
lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan
membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu.

Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber
semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.

Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di
wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.

Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang
jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur..

Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur.

Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu
tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan
paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.

Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti
juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania.. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!

Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!

Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di
luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu
begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah
direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa
yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Selasa, 04 Agustus 2009

Bulanku Pergi

3 comments
Dulu bintang sering tersenyum
melihat sang bulan bersinar terang
Dulu bintang selalu berkilau
berusaha bersanding indah dengan sang bulan
di malam terang

tapi kini..
sang bintang enggan tersenyum
awan hitam merampas keindahannya
bersanding kokoh di samping sang bulan
seolah berkata pada bintang..
"Bulan adalah milikku"

sang bintang tersakiti
melihat bulannya tak peduli
sang bintang terkhianati
melihat bulannya jauh pergi
meninggalkannya sendiri

akankah bulan kembali?
mengobati luka di hati
ataukah ada pengganti
yang menjadi penawar hati
dan menutupi luka di hati

Kamis, 21 Mei 2009

Apakah Rela berkorban dan rasa tanggungjawab itu

4 comments
Apakah seseorang harus dipaksa untuk melakukan sesuatu yang baik agar dia terbiasa dgn sesuatu tersebut atau harus menunggu dia sadar kalau sesuatu yang belum bisa ia lakukan itu adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain ?

Pertanyaan itu yang selalu berkecamuk dalam pikiranku. Rela berkorban dan rasa tanggungjawab masih belum bisa aku lakukan sampai saat ini. Haruskah aku dipaksa untuk rela berkorban dan bertanggungjawab agar aku bisa terbiasa dan akhirnya aku bisa melakukan itu dengan kesadaran dari dalam diriku sendiri? Kurangnya rasa rela berkorban membuat hubunganku dengan seseorang menjadi renggang dan kurangnya rasa tanggungjawab membuat perasaanku ga tenang. Mengandalkan seseorang bukan hal yang baik, memanfaatkan keahlian seseorang untuk mendapat hasil yang bagus bukan cara yang halal. Lalu bagaimana menumbuhkan rasa tanggungjawab dan rela berkorban tanpa harus menyusahkan orang lain ?

Teman-teman, gimana sii caranya menumbuhkan 2 sifat itu dalam diri kita? Butuhkah orang lain untuk membantu atau memang harus dari dalam diri kita sendiri ?

Rabu, 29 April 2009

Masa Kecil yang aneh -part.2-

3 comments
Tentu aja nerusin ngerjain soal, tapi matanya kearah cowok yang ngliatin gw. Dia malah berantem dengan suara gaib -hampir ga kedengeran-. “Ngapain lo ngliatin temen gw?” itulah yang dia ceritain ke gw, gw sih ga tau persis apa aja dialog mereka. Hari pengumuman pun tiba, dengan penuh rasa syukur kami bertiga masuk dan secara resmi diterima di sekolah tersebut. Tentu saja kami riang gembira melihat pengumuman itu.
Hari pertama masuk pun tiba, gw inget banget itu hari jumat karena gw bertiga pake baju muslim dan gambar kita pun diabadikan. Kita berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan yang spektakuler yaitu sepeda. Setiap pagi pasti selalu ada masalah, apakah itu? Giliran yang duluan dalam memimpin rombongan sepeda. Jujur aja, ga ada yang mau langsung mimpin rombongan, pasti ada aja dialog kecil seperti, ”Jalan yuu..”, kata sekar.”Yuu..”, sambut gw sama sandi. Tapi apa yang terjadi? Ga ada satupun sepeda yang beranjak dari tempatnya. Sangat mengherankan bukan. Dan akhhirnya pasti ada salah satu dari kita yang mengalah (entah mengalah atau emosi karena takut telat).
Ada satu cerita konyol yang menimpa sekar pas mau berangkat sekolah. Seperti biasa, kami berangkat naik sepeda dengan sekar sebagai pemimpin rombongan. Tiba-tiba apa yang terjadi? Gw liat sepeda sekar berjalan sedikit tidak seperti biasanya, gw pikir dia nginjek batu. Gw yang kebetulan ada persis di belakang dia sempet sedikit ketawa, sampe akhirnya ketawa gw meledak pas gw ngeliat gerakan sekar yang aneh. Kaki yang seharusnya ada di pedal malah muter-muter nyari pedalnya. Ternyata sesuatu yang diinjek sekar tadi bukan batu, tapi justru pedal beserta tangkai dari pedal sepedanya sendiri. Sumpah, gw ga berhentii ketawa sepanjang jalan. Winsen pun pas gw ceritain kejadian itu, dia ketawa sampe hidungnya kembang-kempis. Sekar pulang ke rumah dan kita tetep melanjutkan perjalanan kita yang sempet tertunda karena insiden konyol itu. Sekar tetep masuk sekolah tapi dianter bokapnya.
Insiden yang serupa tapi tak sama juga terjadi pas kita pulang sekolah di hari yang lain. Sepeda kami biasa diletakkan berdampingan, tapi kalo ga ada tempat ya terpaksa tidak berdampingan. Kami selalu menebak, “kali ini sepeda siapa ya yang akan bertahan tetap berdiri kokoh di tempatnya?”kata gw. Kadangkala tebakan kita bener, tapi banyak salahnya. Karena kaloudah jam pulang para majikan sepeda suka semena-mena kalo udah ketemu sepedanya. Entah sepeda orang dojatuhin lah, entah diinjek sama sepeda lain, atau yang lain tergantung kreativitas si majikan sepeda itu. Tapi berhubung kita orang baik yang selalu menjunjung tinggi perdamaian, kita hanya bisa menghela napas di depan mereka dan ...

Masa Kecil yang aneh

0 comments
Nama gw nila(panggil aja gitu). Waktu gw kecil, tepatnya saat gw bersekolah di taman kanak-kanak gw ga bersekolah di tempat yang sama kaya winsen dan sekar. Tapi pas SD gw bisa bareng sama winsen, lah? Sekar kemana? Dia ke jogja, dia sekolah di sana selama setahun. Gw disini bareng ma winsen. Gw inget banget pertama kali gw belajar nyebrang jalan raya, pas gw kelas 2 SD, gw pulang bareng winsen, dan dengan sok beraninya kita nyebrang tentu aja kita liat kanan-kiri dulu kaya pesen orang tua kita -yang umumnya dipesenin juga buat anak-anak lain-. Setelah sampe sebrang kita seneng banget dah berhasil nyebrang jalan gede, padahal kalo diliat-liat sekarang itu jalan ga gede-gede amat kok. Mungkin karena waktu itu kita masih bocah jadi jalanan itu terasa gede banget. Tapi udahlah ga usah di bahas lagi, toh sekarang gw dah bisa nyebrang walaupun masih sering ngintilin orang atau tiba-tiba menghilang ke sebelah orang yang mau nyebrang.
Back to the topic aja, pas kelas 2 cawu 2(waktu gw SD masih pake cawu=caturwulan), akhirnya Tuhan mempertemukan gw dengan Sekar. Dan cerita persahabatan ini pun dimulai. Guru SD kita sangat bersahabat(bersahabat dengan orang tua kita tentunya), karena bisa di bilang SD gw itu sebagai SD se-RT gw. Kenapa gitu? Karena hampir semua makhluk cilik di RT gw sekolah disitu. Mungkin karena itu juga kenapa kita selalu sekelas. Sekar termasuk anak yang berani termasuk dalam hal c****, dia bisa suka sama senior dan senior itu pun tau(kayaknya sih gitu). Sampe-sampe gw dan genk gw dapet kasus kena sedikit nasehat dari nyokapnya gara-gara kita pernah godain sekar sama senior itu yang membuat hati sekar sedikit jadi sensitif, maklumlah, namanya juga anak-anak.
Pas kelas 6 SD gw punya genk namanya Teletubbies. Personilnya sama persis kaya personilnya teletubbies, gw, winsen, nia, ma erna. Erna sebagai tinky winky, nia sebagai dipsy, winsen sebagai lala, dan gw sendiri sebagai Po. Gw ga deket ma sekar waktu kelas 6, karena dia punya genk sendiri. Tapi karena rumah gw, sandi dan sekar tetanggaan jadi nyokapnya sekar menyarankan kalo sekar lebih baik main sama kita aja biar kalo ada apa-apa gampang ngontrolnya.
Dan akhirnya sekar gabung ke genk kita dan dia jadi nunu (gajahnya teletubbies). Saat akhir sekolah, tepatnya menjelang uas dan uan kami sempet bingung smp mana yang akan jadi tempat persinggahan kami selanjutnya. Gw, sandi dan sekar memilih untuk singgah di smp yang berbeda dengan nia bahkan dengan erna. Karena erna akan melanjutkan sekolah di garut.
Dengan perjuangan dan doa dari banyak manusia akhirnya kami lulus dengan hasil yang memuaskan. Gw, sandi dan sekar pun mengikuti tes masuk smp. Sempet terjadi sedikit tragedi pas tes masuk itu. Ada cowok yang ngeliatin gw, awalnya gw anggep dia hebat karena masih ada waktu cukup lama buat ngerjain itu soal, tapi dia malah celingukan udah kaya maling mau nyolong jemuran. Sandi-yang kebetulan sekelas sama gw pas tes-tau kalo ada yang ngeliatin gw, trus apa yang dia kerjakan?

Senin, 16 Maret 2009

PROSES ...

2 comments
“Ideas are only seeds, to pick the crops needs perspiration”
Gagasan-gagasan hanyalah bibit, menuai hasilnya membutuhkan keringat.

Suatu blog milik seseorang –mmm, lupa blognya siapa..(^^)v-,
memberikan sedikit inspirasi yang mengingatkanku tentang salah satu kata yang penting dalam hidupku yaitu PROSES. Tanpa PROSES kita bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Dengan PROSES, kita bisa meraih cita-cita dan dengan PROSES pula kita bisa jadi orang yang gagal. PROSES menentukan segalanya. Sama halnya dengan masakan, PROSES juga butuh tambahan bumbu-bumbu kerja keras dan keringat sebagai penyedapnya. Enak atau tidaknya suatu masakan adalah hasil dari suatu PROSES.

Tapi, lain halnya jika kita memulai suatu PROSES dengan niat yang buruk dan dengan hati yang tak ikhlas. PROSES bisa menjadi racun dalam hidup kita. Jangankan menjadi orang yang sukses, berharap menjadi orang sukses pun akan sulit. Memang terdengar dramatis jika kita tidak bisa menjadi seseorang yang sukses karena suatu PROSES yang salah. Untuk itu, selama kita masih muda, selama kita masih punya semangat juang yang tinggi, dan masih diberikan kepercayaan lebih oleh semua orang, janganlah salah melangkah dan menjadikan PROSES itu salah.

Seperti kata pepatah yang mengatakan,
“The danger of small mistakes is that those mistakes are not always small”
Bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil.

Maksudnya, Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.

Hidup hanya sekali, tak akan ada kesempatan lagi di kehidupan selanjutnya jika kita tak mau memperbaiki kesalahan kita. Berikanlah sedikit ruang pada otak kita untuk berfikir dan merenungi kembali apakah PROSES hidup yang selama ini kita jalani bisa mengantarkan kita pada bukit kesuksesan atau justru akan mengantarkan pada lembah kehancuran.

SinCeraSenorita…\(^.^)/